Isuzu Isyaratkan Suntik Mati Panther Tahun Depan

Ditulis oleh : Danang Setiaji | 7 February 2020

Isuzu Isyaratkan Suntik Mati Panther Tahun Depan

momobil.id – Menyandang predikat sebagai legenda mesin diesel selama kurang lebih dua puluh tahun, eksistensi Isuzu Panther di Indonesia tampaknya akan berhenti pada 2021 menyusul pemberlakuan regulasi standar emisi Euro IV.

Regulasi tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri LHK nomor P.20 tahun 2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Roda Empat atau Lebih Tipe Baru Kategori M, N, dan O. Ketentuan standar Euro IV utuk kendaraan roda empat berbahan bakar diesel akan mulai berlaku pada 7 April 2021.

Menurut General Manager Marketing PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), Attias Asril, Panther akan terbentur regulasi Euro IV. “Mesin Panther secara teoritis tidak akan comply dengan standar emisi tersebut. Maka (keberadaannya) ditentukan pada implementasi kebijakan Euro IV itu,” kata Attias seperti dilansir Kompas.com.

Panther yang dijual saat ini masih menggunakan spesifikasi standar emisi Euro II. Jika seluruh kendaraan diesel harus beralih ke Euro IV tahun depan, maka Panther terpaksa tak bisa diproduksi kembali. Attias menjelaskan jikalau Panther dilakukan penyesuaian untuk memenuhi regulasi tersebut, maka diperukan beberapa hal untuk mencapai skala ekonomi. Namun pihaknya melihat tren pasar mulai berubah ke segmen mobil SUV dan Panther sendiri hanya ada di Indonesia.

“Negara lainnya seperti Filipina sudah ganti MU-X. Maka kami juga harus berubah,” kata Attias. Penjualan Panther sendiri terus mengalami penurunan. Pada 2018, distribusinya masih berada di kisaran 950 unit. Dan pada 2019, distribusinya hanya mencapai angka 763 unit. “Pasar otomotif Indonesia mengalami perkembangan. Segmen MPV medium cenderung mengalami penurunan dan beralih ke SUV. Kami memiliki MU-X di kelas SUV,” ucapnya.

Sementara itu, Vice President Director PT IAMI, Keiji Takeda, syarat jika Panther mau diremajakan dengan memenuhi ketentuan Euro IV adalah penjualannya paling sedikit menyentuh angka tiga ribu hingga lima ribu unit per tahun. “Saat ini baru berada di angka 900an unit. Berarti harus ekspor, tak bisa mengandalkan pasar domestik saja. Namun di negara lain, ada perkembangan tren,” jelas Keiji.

Baca Juga: Cari Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik? Berikut Daftar Lokasinya

“Produk utama kami juga ada di kendaraan niaga. Setelah itu baru passanger car. Jadi memang cukup sulit. Tapi bukan berarti kami tinggalkan pasar tersebut,” sambungnya.



Kembali ke atas