Xiaomi Bikin Mobil Mainan Suzuki Jimny, Berapa Harganya?

Ditulis oleh : Danang Setiaji | 5 July 2020

Xiaomi Bikin Mobil Mainan Suzuki Jimny, Berapa Harganya?

momobil.id – Jika mendengar nama brand Xiaomi, maka biasanya langsung terbayang produk smartphone atau perangkat elektronik lainnya seperti earphone, power bank, dan sebagainya. Namun apa jadinya jika Xiaomi mulai memproduksi mobil ?

Ternyata, Xiaomi bukan memproduksi mobil sungguhan. Seperti dilansir Viva, Xiaomi membuat mainan mobil remote control berbentuk off-road Suzuki Jimny. Mobil remote control ini dibuat dengan skala 1:16 yang didesain semirip mungkin dengan mobil aslinya. Xiaomi pun tidak main-main mendesain mainan ini lantaran ada dua ratus part yang bisa dibongkar pasang oleh pengguna.

Karena ini mainan remote control, maka penggeraknya tentu bukan mesin berbahan bakar melainkan energi listrik. Detailnya cukup lengkap, mulai dari peredam kejut hingga penggerak empat roda. Ban yang dipasang juga memiliki kemampuan untuk melaju di medan tanah dan lumpur. Untuk mengatur laju dan arahnya, pemilik bisa memanfaatkan ponsel yang terhubung melalui bluetooth.

Bagi yang tertarik membelinya, harga yang dipasang Xiaomi untuk menebus mainan remote control Jimny yakni 199 Yuan, atau sekitar Rp408 ribu. Namun selama masa perkenalan, harganya dikorting menjadi hanya 179 Yuan atau sekitar Rp367 ribu.

Adapun berbeda dengan mainannya, Jimny sungguhan yang ditawarkan Suzuki Indonesia dibanderol mulai dari Rp372,5 juta untuk varian transmisi manual satu warna, hingga Rp388 juta untuk tipe transmisi otomatis dan warna two tone.

Baca juga: Cara Menghilangkan Swirl Mark di Body Mobil, Cukup Pakai Peralatan Ini

Konsumen di Indonesia yang ingin membeli Jimny harus rela antre untuk mendapatkan mobil yang satu ini. Langkanya Jimny dikarenakan produksi mobil tersebut hanya dilakukan di Jepang. Faktor kedua yang menyebabkan antrean begitu panjang, yakni tingginya permintaan terhadap mobil tersebut. Inden tidak hanya terjadi di Jepang saja, namun juga di beberapa negara Eropa dan Asia. Waktu tunggu lebih dari satu tahun, juga sudah terjadi di Indonesia.

Sumber gambar: gaadiwaadi.com



Kembali ke atas